Masuk
Rasio NewsRasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Reading: Ketika Politik Mayoritas Gagal Menghadirkan Keadilan, Minoritas Mulai Mencari Jalan Kebangsaan Baru
Share
Rasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Yudikatif
  • TNI – Polri
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
Search
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Sudah punya akun? Masuk
Follow US
Rasio News > Berita > Nasional > Ketika Politik Mayoritas Gagal Menghadirkan Keadilan, Minoritas Mulai Mencari Jalan Kebangsaan Baru
Nasional

Ketika Politik Mayoritas Gagal Menghadirkan Keadilan, Minoritas Mulai Mencari Jalan Kebangsaan Baru

Terakhir diperbarui: 21 Mei 2026 11:02
Reporter Redaksi Diposting 21 Mei 2026 78 Views
Share
IMG 20260521 WA0005
SHARE

 

 

Oleh: Jurnalis Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas

Jurnalis ll rasionews.com ll Penggiat Budaya, Aktivis 98

Jakarta – Indonesia sejak awal tidak pernah dibangun sebagai negara milik satu kelompok. Republik ini lahir dari perjumpaan banyak identitas: suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang yang berbeda-beda. Para pendiri bangsa memahami bahwa Indonesia terlalu besar jika dipaksa berdiri di atas dominasi satu golongan.

Karena itu lahirlah semangat Bhinneka Tunggal Ika — berbeda-beda tetapi tetap satu.

Namun setelah puluhan tahun reformasi berjalan, publik mulai melihat satu kenyataan yang sulit dibantah: demokrasi Indonesia sering kali masih gagal menghadirkan rasa setara bagi semua warga negara.

Di atas kertas, semua memiliki hak yang sama. Tetapi dalam praktik sosial dan politik, masih ada kelompok yang merasa suaranya tidak benar-benar didengar. Masih ada masyarakat kecil yang merasa hanya dibutuhkan saat pemilu. Masih ada kelompok minoritas yang hidup dalam kecemasan sosial ketika identitas agama dijadikan alat mobilisasi politik.

Dan yang paling berbahaya, politik Indonesia perlahan mulai kehilangan kedewasaan kebangsaannya.

Hari ini politik terlalu sering dimainkan dengan emosi identitas. Perbedaan agama dijadikan alat propaganda. Kebencian dipelihara demi elektabilitas. Ruang publik dipenuhi pertengkaran tanpa arah, sementara rakyat kecil tetap bergelut dengan kemiskinan, pendidikan yang mahal, lapangan kerja yang sempit, dan ketidakpastian masa depan.

Inilah ironi demokrasi modern Indonesia.

Rakyat dipaksa memilih elite yang terus berbicara tentang persatuan, tetapi dalam praktiknya justru sering memelihara polarisasi.

Budaya lokal Indonesia sejatinya tidak pernah mengajarkan politik kebencian.

Masyarakat Sunda mengenal filosofi silih asah, silih asih, silih asuh — saling membangun, saling mengasihi, dan saling menjaga. Dalam budaya Jawa ada prinsip memayu hayuning bawana, menjaga harmoni kehidupan bersama. Masyarakat Batak memiliki falsafah dalihan na tolu yang menekankan penghormatan sosial dan keseimbangan relasi. Di Minahasa hidup budaya mapalus atau gotong royong tanpa memandang perbedaan agama dan status sosial.

Baca Juga:  Kunjungan Kerja Virtual Jaksa Agung Tegaskan Komitmen Dukung Pemerintah dalam Kebijakan Efisiensi dan Pemberlakuan KUHP Baru

Semua budaya Nusantara sebenarnya mengajarkan satu hal yang sama: manusia harus diperlakukan sebagai manusia.

Tetapi politik modern sering justru bergerak ke arah sebaliknya.

Ketika agama mulai diperalat untuk kepentingan kekuasaan, maka demokrasi perlahan berubah menjadi arena ketakutan. Minoritas dipaksa diam agar dianggap aman. Kelompok kecil harus berhitung untuk bersuara. Bahkan toleransi sering hanya menjadi slogan formal di panggung seremonial, tetapi belum sepenuhnya hidup dalam praktik politik sehari-hari.

Di tengah situasi itulah mulai muncul diskusi yang semakin menarik di ruang publik: mungkinkah lahir sebuah partai Kristen sebagai politik kebangsaan alternatif yang memperjuangkan kesetaraan, toleransi, dan hak semua warga negara?

Pertanyaan ini sebenarnya bukan semata tentang agama. Ini adalah respon sosial terhadap kegelisahan sebagian masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap wajah politik lama.

Banyak rakyat mulai lelah melihat politik yang hanya hadir saat pemilu, tetapi absen dalam perjuangan keadilan sosial. Mereka merindukan kekuatan politik yang berbicara tentang moralitas, keberanian membela yang lemah, penghormatan terhadap keberagaman, dan politik yang lebih manusiawi.

Di sinilah wacana partai Kristen menjadi menarik untuk dibaca secara objektif.

Jika kekuatan politik seperti itu muncul, maka kekuatannya tidak boleh terletak pada simbol salib atau identitas agamanya semata. Sebab Indonesia bukan negara agama. Indonesia adalah rumah bersama.

Yang harus diperjuangkan justru nilai universal yang hidup dalam ajaran Kristiani: kasih terhadap sesama, keberanian membela kaum tertindas, kejujuran, pelayanan, anti-korupsi, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesediaan merangkul semua golongan tanpa diskriminasi.

Dengan kata lain, partai Kristen hanya akan relevan jika ia tampil bukan sebagai politik identitas, tetapi sebagai politik kebangsaan yang berpihak pada kemanusiaan.

Baca Juga:  Untuk Akurasi Kebijakan, Bupati Berharap Data Sensus Pertanian Dapat Dimaksimalkan

Karena sesungguhnya rakyat Indonesia hari ini tidak sedang kekurangan partai politik. Yang kurang adalah keteladanan moral.

Publik sudah terlalu lama menyaksikan elite yang berbicara tentang agama tetapi terjerat korupsi. Berbicara tentang nasionalisme tetapi memelihara kebencian sosial. Berbicara tentang rakyat kecil tetapi hidup jauh dari penderitaan masyarakat.

Maka jika partai Kristen ingin hadir sebagai alternatif kebangsaan, ia harus berani berbeda secara nyata — bukan sekadar berbeda warna bendera.

Ia harus hadir membela petani yang kehilangan tanah, nelayan kecil yang tersingkir, buruh yang tidak mendapat keadilan, guru honorer yang hidup dalam ketidakpastian, masyarakat adat yang haknya dirampas, hingga kelompok minoritas yang sering diperlakukan tidak setara.

Politik seperti itulah yang sesungguhnya dirindukan rakyat.

Pribahasa Sunda mengatakan, “Caina herang, laukna beunang.” Menyelesaikan persoalan tanpa merusak keharmonisan. Politik Indonesia ke depan seharusnya bergerak ke arah itu: memperjuangkan perubahan tanpa memecah bangsa.

Karena Indonesia tidak membutuhkan politik yang memperbesar rasa takut antarwarga negara. Indonesia membutuhkan politik yang mampu membangun rasa saling percaya.

Dan mungkin di tengah krisis keteladanan politik hari ini, munculnya gagasan partai Kristen sebagai politik kebangsaan alternatif adalah tanda bahwa sebagian masyarakat sedang mencari harapan baru — sebuah politik yang tidak dibangun di atas kebencian identitas, tetapi di atas keberanian memperjuangkan kesetaraan, toleransi, dan kemanusiaan sebagai fondasi masa depan Indonesia.

Bagikan Berita Ini
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Apa Reaksi Anda?
Suka0
Galau0
Kocak0
Terkejut0
Emosi0
BERITA SEBELUMNYA IMG 20260519 WA0204 Polsek Cipondoh Bekuk Komplotan Pembobol Rumah di Gondrong, Laptop Curian Dijual Rp300 Ribu
BERITA BERIKUTNYA IMG 20260521 WA0011 Sempat Melarikan Diri, Pelaku Pengeroyokan Berhasil Diamankan: Polsek Tangerang Tegaskan Komitmen Tegakkan Hukum
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan Pilih Rating!

- Advertisement -

Berita Populer

IMG 20261001 WA0154
Nasional
Dirut RS Hermina Cilegon dan Jajaran Sampaikan Pesan Kebangsaan di Hari Lahir Pancasila 2026
1 Oktober 2026 36 Views
IMG 20260930 105859
Nasional
Desa Sukarame kecamatan Sukarame kabupaten Tasikmalaya Menyalurkan Bantuan Beras Dari Kemensos RI1154 KPM
30 September 2026 32 Views
IMG 20260930 WA0029
Nasional
Dampak Kemarau Panjang ,Kodim Boyolali Hadir Bantu Masyarakat Dengan Menyalurkan Air Bersih
30 September 2026 30 Views
IMG 20261001 WA0227
Pendidikan
Revitalisasi SDN Patia 2 Berjalan Sesuai Spek dan RAB, Warga: Terima Kasih Pemerintah, Demi Masa Depan Anak-anak
1 Oktober 2026 29 Views
IMG 20261001 WA0162
Pemerintahan
Dirut RS Hermina Cilegon dan Jajaran Sampaikan Pesan Kebangsaan di Hari Kesaktian Pancasila 2026
1 Oktober 2026 28 Views
IMG 20260930 WA0140
TNI – Polri
Lokasi Diduga Penyimpanan BBM Dicek, Polda Banten Temukan Drum dan Jerigen Kosong
30 September 2026 27 Views
Jasa Website & Artikel SEO
Jasa Website & Artikel SEO

Pendidikan

Revitalisasi SDN Patia 2 Berjalan Sesuai Spek dan RAB, Warga: Terima Kasih Pemerintah, Demi Masa Depan Anak-anak
1 Oktober 2026 29 Views
SMK Negeri 1 Wanasalam Rutin Gelar Korve dan Gerakan Banten Bersih Setiap Jumat
27 September 2026 36 Views
Kuliah Gratis PTN, Wakil Rektor Paramadina Soroti Masa Depan PTS
26 September 2026 27 Views
Di Hut RI Ke 81,Kadindibud Kota Cilegon ajak masyarakat berkarya dan memajukan pendidikan demi Indonesia yang lebih maju
17 Agustus 2026 79 Views
Mendekati HUT ke-81 Republik Indonesia, Kadisdik Kota Tangerang Ajak Masyarakat Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
1 Agustus 2026 67 Views

Seputar Desa

IMG 20260807 WA0079
Jumat Berkah di Nerogtog: Lurah Santuni Anak Yatim dan Kaum Dhuafa
7 Agustus 2026 53 Views
IMG 20260724 WA0216
Pemerintah Desa Harapankarya Apresiasi Bantuan Rumah Layak Huni Rp25 Juta dari BAZNAS Provinsi Banten
24 Juli 2026 82 Views
Screenshot 20260707 150907
Pencapaian Desa Cawet Sukseskan PTSL 2026 dengan Antusias Pendaftar Warga Desa
7 Juli 2026 214 Views
IMG 20260622 WA0085
FRIC Soroti Sikap Kepala Desa Kaduagung yang Dinilai Sulit Dikonfirmasi, Komitmen Keterbukaan Informasi Dipertanyakan
22 Juni 2026 119 Views
IMG 20260519 WA0030
OPERASIONAL MOBIL SIAGA DESA PANIMBANG JAYA JADI PERDEBATAN
19 Mei 2026 171 Views

Artikel Terkait:

IMG 20251018 WA0016
Nasional

Dikukuhkan Jadi Ketua KONI 2025-2029, Wabup Jigus: Target Lompatan Prestasi Olahraga Daerah

18 Oktober 2025 93 Views
IMG 20240801 WA0136
Nasional

Warga Kota Bumi Keluhkan Adanya Proyek Peningkatan Jalan

1 Agustus 2024 200 Views
IMG 20241110 WA0073
Nasional

Kolaborasi JAMPIDUM dan STIH Adhyaksa Adakan Seleksi Chainalysis Reactor untuk Jaksa di Indonesia

10 November 2024 218 Views
1742548184795
Nasional

Bakal Jadi Tuan Rumah APEKSI Korwil III, Pemkot Dorong Kolaborasi, Diskusi dan Promosi

21 Maret 2025 645 Views
Rasio News
  • rasionews25@gmail.com
  • 0813-2345-7193
  • 0817717715
  • Berita
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Edukasi
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Reading: Ketika Politik Mayoritas Gagal Menghadirkan Keadilan, Minoritas Mulai Mencari Jalan Kebangsaan Baru
Share
Copyright © 2023 PT. Rafa Canasha Media
Selamat Datang di RasioNews.com!

Masuk ke Akun Anda