Masuk
Rasio NewsRasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Reading: Pucuk Rebung yang Menggenggam Cahaya”: Narasi Keadilan Gerakan Kesetaraan di Lembah Sunda
Share
Rasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Yudikatif
  • TNI – Polri
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
Search
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Sudah punya akun? Masuk
Follow US
Rasio News > Berita > Nasional > Pucuk Rebung yang Menggenggam Cahaya”: Narasi Keadilan Gerakan Kesetaraan di Lembah Sunda
Nasional

Pucuk Rebung yang Menggenggam Cahaya”: Narasi Keadilan Gerakan Kesetaraan di Lembah Sunda

Terakhir diperbarui: 9 Desember 2025 14:21
Reporter Redaksi Diposting 9 Desember 2025 88 Views
Share
IMG 20251209 WA0020
SHARE

 

 

Bogor ll rasionews.com ll Di lumbung cerita Sunda, ada dongeng tentang pucuk rebung — lembut, mudah patah, tapi penuh harapan tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Begitulah kiasan yang pantas untuk kehadiran Gerakan Kesetaraan di tanah yang dulu diperintah Prabu Siliwangi: tidak datang untuk menggantikan akar yang kaku, melainkan sebagai cabang baru yang tumbuh dari tanah yang sama — dengan semangat kesetaraan yang menjadi jiwa setiap langkahnya, terutama di tengah gelombang gerakan intoleransi yang mulai menyebar seperti angin kering yang membakar semak sejak tahun 2019 hingga 2025. Ada pribahasa Sunda yang tepat mewakili semangat perlawanan mereka: “Beda-beda asal bisa rahayu, beda-beda asal bisa urang” — berbeda-beda tidak masalah asal bisa hidup rukun, berbeda-beda tidak masalah asal tetap satu bangsa.

Ketika langit Padjajaran menguningkan sore, dan bayangan masa lalu menyentuh permukaan bumi, kita tidak hanya mendengar tangis sang raja yang melihat keturunannya terluka. Kita juga mendengar senandung yang lembut — doa dari para pemimpin Gerakan Kesetaraan yang memahami bahwa budaya Sunda tidaklah terletak hanya di kain ulos atau tari jaipong, melainkan di jiwa gotong-royong, rukun, dan keadilan yang telah melesat dari mulut karuhun ke telinga generasi. Mereka tahu bahwa ketika anak-anak Sunda merasa “tamu di lembur sorangan”, itu bukan hanya karena hilangnya kesetaraan dalam akses, kesetaraan dalam suara, dan kesetaraan dalam harapan — tapi juga karena intoleransi yang semakin merajalela sejak tahun 2019, yang tercatat secara rinci oleh lembaga pemantau. Menurut Setara Institute, selama periode 2014-2019, Jawa Barat mencatat 162 kasus pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan — lebih tinggi dari provinsi lain di Indonesia — dan dalam 12 tahun terakhir (hingga 2019) jumlahnya bahkan mencapai 629 kasus, menjadikannya daerah dengan tingkat intoleransi tertinggi di negeri ini. Contoh konkretnya, tahun 2020 di Depok, lima peristiwa intoleransi terjadi: mulai dari pengajuan raperda kota religius, diskriminasi siswi berjilbab, pelarangan Valentine’s Day, hingga demonstrasi yang memaksa umat Ahmadiyah menghentikan kegiatan di masjid al-Hidayah. Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tahun 2020 juga mencatat bahwa kasus di Depok itu termasuk dalam 30 persen kasus intoleransi di Jabar yang melibatkan aktor non-negara dengan dukungan diam-diam dari beberapa yang diduga oknum pejabat . Semua itu membuat mereka merasa tidak pantas di tanah kelahiran sendiri, yang dulu terkenal dengan semangat dari pribahasa itu: “rukun bisa rahayu, beda bisa bersatu”.

Baca Juga:  Pesta Gol di Moh Sarengat, Persibat Batang Hancurkan Bintang Timur 3-0

Gerakan Kesetaraan di sini tidak datang sebagai “tamu yang menguasai”, melainkan sebagai “teman yang berbagi” — dimana setiap warga, tanpa memandang agama, suku, atau status, dihargai secara setara, bahkan ketika gerakan intoleransi mencoba membagi-bagi kita. Mereka menyaksikan bagaimana sikap intoleran terus berkembang: pada tahun 2022 di Bandung, Walikota Yana Mulyana meresmikan gedung dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) — kelompok yang dinilai sering melakukan pelanggaran kebebasan beragama — yang dianggap sebagai fasilitasi terhadap gerakan intoleransi terhadap komunitas Syiah. Laporan Impar Sial tahun 2022 mencatat bahwa setelah peresmian itu, jumlah kasus intimidasi terhadap umat Syiah di Bandung meningkat 40 persen dalam setahun. Meskipun survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2023 menunjukkan mayoritas masyarakat Jabar (68 persen) menolak kekerasan ekstrem, data juga mencatat 45 persen remaja setuju kekerasan ekstrem atas nama agama, menjadi potensi ancaman di masa depan. Lalu, periode Desember 2024-Juli 2025, organisasi non-pemerintah Impar Sial mencatat 13 kasus pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi yaitu sembilan kasus — sebagian besar adalah pelanggaran hak atas rumah ibadah dan hak melaksanakan ibadah, dengan pelaku berasal dari aktor negara maupun non-negara. Contoh nyatanya adalah kejadian Juni 2025 di Cidahu, Sukabumi, di mana sekelompok warga mendatangi rumah singgah yang digunakan pelajar Kristen untuk retret, melakukan intimidasi, merusak fasilitas, dan bahkan menghancurkan Alkitab serta simbol salib tanpa proses klarifikasi yang layak. Setara Institute yang melakukan investigasi lapangan menyatakan bahwa kejadian itu dipicu oleh hoaks yang menyebar cepat di media sosial, dengan 70 persen warga yang ikut berpartisipasi mengakui hanya melihat informasi dari WhatsApp grup tanpa memverifikasi. Mereka juga menyaksikan kejadian April 2025 di Garut, di mana pemerintah setempat menutup rumah doa Kristen setelah tekanan dari kelompok warga yang mengklaim rumah itu “tidak memiliki izin” — padahal Laporan Komnas HAM Mei 2025 menunjukkan izin sudah diajukan sejak tahun 2023 namun belum diproses. Mereka memahami bahwa dongeng Si Pitung tidak hanya cerita pencuri pemberani, tapi tentang keadilan bagi yang lemah — dan itu selaras dengan ajaran kasih dan kesetaraan yang menjadi tulang punggung ideologi mereka, sebagai perlawanan terhadap setiap bentuk kebencian dan tidak mau memahami. Mereka memahami bahwa upacara seren taun adalah ungkapan rasa syukur terhadap bumi yang dinikmati bersama — dan itu menjadi landasan untuk kebijakan pelestarian lingkungan yang mereka usulkan, dimana manfaatnya dirasakan secara setara oleh petani, nelayan, dan warga kota, tanpa terkecuali karena keyakinan yang berbeda yang dipakai sebagai alasan intoleransi. Seperti yang diceritakan dalam “beda-beda asal bisa urang”, mereka percaya bahwa perbedaan tidak boleh menghalangi kita untuk saling berbagi dan hidup rukun, bahkan di tengah gelombang kebencian yang terus muncul. Budaya tidak dijadikan dekorasi yang hanyut di arus zaman, melainkan sebagai pijakan moral untuk membangun langkah-langkah yang menyentuh hati rakyat: dari bantuan petani yang tertekan, hingga akses pendidikan bagi pemuda yang tersisih — semua dengan prinsip kesetaraan yang tidak tergoyahkan, bahkan ketika intoleransi mencoba merusak semua itu.

Baca Juga:  Sosialisasikan Sertipikat-El kepada Praktisi dan Akademisi, Sekjen Kementerian ATR/BPN Sampaikan Capaian Sertipikat Elektronik

Seperti air mata Prabu Siliwangi yang jatuh tanpa suara, Gerakan Kesetaraan menyadari bahwa kesedihan yang paling dalam adalah ketika rakyat terasing di tanah kelahiran sendiri — ketika mereka merasa tidak memiliki tempat karena kurangnya kesetaraan dalam pengambilan keputusan, atau karena intoleransi yang membuat suara mereka teredam. Laporan Human Rights Watch (HRW) tahun 2020 juga mencatat bahwa minoritas agama di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, menghadapi pelecehan, intimidasi, dan kekerasan dari militan sunni, pejabat pemerintah, dan pasukan keamanan — meskipun retorika presiden mendukung hak asasi manusia. Survei Indonesia Survey Circle (ISC) tahun 2024 menunjukkan bahwa 52 persen minoritas agama di Jabar merasa “tidak aman beribadah di tempat umum”, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 38 persen. Mereka juga menyadari bahwa sejak tahun 2019, Jawa Barat termasuk provinsi dengan tingkat intoleransi tinggi di Indonesia, bahkan menempati urutan ketiga setelah Aceh dan Sumatera Barat menurut survey Kemenag tahun 2019. Oleh karena itu, mereka berusaha menjadi “jeritan yang terdengar” — bukan dengan berteriak, melainkan dengan bertindak untuk menciptakan ruang di mana suara setiap orang didengar secara setara, sebagai lawan dari intoleransi yang hanya mau mendengar satu sisi. Mereka membangun ruang untuk berbicara, di mana yang tua dan muda, yang beragama Kristen dan yang beragama lain, bisa berkumpul untuk membahas masa depan Tanah Sunda — dengan kedudukan yang sama, tanpa yang lebih tinggi atau lebih rendah, bahkan ketika gerakan intoleransi mencoba membuat sebagian orang merasa lebih penting dari yang lain. Semua itu sesuai dengan makna “beda-beda asal bisa rahayu”: kita bisa berbeda, tapi tetap bisa hidup damai dan saling menghormati, meskipun tantangan intoleransi terus menghadang sejak tahun 2019.

Baca Juga:  Pelaksanaan Dan Mandor Pekerja Diduga Dengan Sengaja Tidak Memberikan K3

Peringatan karuhun tentang menjaga warisan? Gerakan Kesetaraan mengartikulkannya dengan cara yang lugas dan penuh rasa hormat: menjaga budaya berarti mengangkat nilai-nilainya untuk menghadapi masa depan, bukan menjebakkannya di masa lalu — dan semua itu dilakukan dengan semangat kesetaraan yang menjamin warisan ini dinikmati oleh semua generasi, tanpa kecuali, bahkan di tengah gelombang intoleransi yang berusaha merusak ikatan kita sebagai rakyat Sunda sejak tahun 2019 hingga 2025. Seperti Prabu Siliwangi yang memperjuangkan tanah dan rakyatnya, Gerakan Kesetaraan berusaha menjadi pelindung bagi yang lemah dan pemimpin yang membawa harapan — sehingga cahaya langit Padjajaran tetap menyinari setiap sudut lembah, dan pucuk rebung yang baru tumbuh bisa menjadi pohon yang melindungi semua rakyat — dengan cara yang setara, adil, dan penuh kasih, sebagai perlawanan yang tenang tapi tegas terhadap setiap bentuk intoleransi, dan sebagai wujud nyata dari pribahasa yang kita junjung: “Beda-beda asal bisa rahayu, beda-beda asal bisa urang”.

Dan ketika hari esok tiba, ketika langit Padjajaran menyiram cahaya baru, Gerakan Kesetaraan tidak berhenti di situ. Mereka terus mengajak semua rakyat Sunda — dari petani di dataran tinggi hingga pekerja di kota — untuk bersatu membangun tanah yang lebih baik. Tidak lagi ada yang merasa terasing, tidak lagi ada yang merasa suara mereka tidak terdengar. Karena di mata mereka, setiap orang adalah bagian dari tumpuk riceg yang kuat, setiap orang adalah pucuk rebung yang membawa harapan — dan hanya dengan saling menghormati dan hidup secara setara, kita bisa membuat tangis Prabu Siliwangi berubah menjadi tawa generasi mendatang.

Penulis Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Bagikan Berita Ini
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Apa Reaksi Anda?
Suka0
Galau0
Kocak0
Terkejut0
Emosi0
BERITA SEBELUMNYA Beri Pengarahan Umum di Rakernas 2025, Sekjen ATR/BPN: Pahami Renstra dan Manfaatkan Momentum Penghujung Tahun
BERITA BERIKUTNYA IMG 20251209 WA0016 DPD GWI Banten Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember 2025
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan Pilih Rating!

- Advertisement -

Berita Populer

Screenshot 20260624 135109
NasionalPemerintahan
Wabup Batang Evaluasi Pelaksanaan SPPG, Soroti Penghentian Operasional Sejumlah Satuan
24 Juni 2026 247 Views
IMG 20260619 143917
Nasional
Pemerintah Desa Karangmukti, Kecamatan Salawu kabupaten Tasikmalaya, menyalurkan bantuan sosial sembako
19 Juni 2026 23 Views
IMG 20260621 WA0011
Hukum
Kasus Padepokan Al Anfas Memanas, Kuasa Hukum Pertanyakan Gelar Perkara Sebelum Hasil Pemeriksaan Ditandatangani
21 Juni 2026 21 Views
17820079125102795644051728098296
Nasional
Yayasan Al Hidayah Hasza Pelepasan Dan Pentas Seni RA Dan DTA Desa Tanjungsari kecamatan Salawu kabupaten Tasikmalaya
21 Juni 2026 21 Views
IMG 20260619 WA0099
TNI – Polri
Polda Banten Akan Gelar Turnamen Esports Kapolda Cup 2026, Jaring Atlet Berprestasi Menuju Kapolri Cup
19 Juni 2026 19 Views
IMG 20260622 103340
Nasional
SDN Budikarya, Sebanyak 17 siswa/siswi Siap Lanjutkan ke Jenjang Berikutnya
22 Juni 2026 18 Views
Jasa Pembuatan Website Berita
Jasa Website Jogja
Jasa Backdrop Event Jogja
Jasa Backdrop Jogja

Pendidikan

Pembangunan Revitalisasi Satuan Pendidikan (SMP) 3 Tunjung Teja Bersumber APBN Seharusnya Swakelola, Diduga Oleh Pihak Ke Tiga Jelas Langgar Aturan
12 Juni 2026 28 Views
DARI KETUKAN MENJADI KEBANGGAAN! SEMANGAT DRUMBAND SMP NEGERI 7 WAKRE TERUS DITEMPA
4 Juni 2026 38 Views
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang beserta Staf Mengucapkan , Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah / 2026 M
1 Juni 2026 43 Views
PSMTI Prihatin Calon Paskibraka Nasional Asal Makasar “Cathlyn Yvaeni Lesmana Gagal Lolos
28 Mei 2026 44 Views
Kepala Dinas Pendidikan Kota Cilegon Mengucapkan , Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah / 2026 M
26 Mei 2026 47 Views

Seputar Desa

IMG 20260622 WA0085
FRIC Soroti Sikap Kepala Desa Kaduagung yang Dinilai Sulit Dikonfirmasi, Komitmen Keterbukaan Informasi Dipertanyakan
22 Juni 2026 12 Views
IMG 20260519 WA0030
OPERASIONAL MOBIL SIAGA DESA PANIMBANG JAYA JADI PERDEBATAN
19 Mei 2026 69 Views
IMG 20260219 WA0190
Puluhan Juta per Desa, Mesin Mati Total: Ada Apa dengan Dana Desa 2021?
19 Februari 2026 258 Views
IMG 20260218 WA0209
Ketua BPD Waringin kurung”inisial”S N ) Diduga Rangkap Jabatan PNS, Publik Desak Penegakan Aturan
18 Februari 2026 267 Views
Jaga Sumber Air Pegunungan, Harun Abdul Khafizh Dukung Penghijauan Trajumas
22 Desember 2025 342 Views

Artikel Terkait:

Jenderal Dudung Abdurahman Rilis Single Religy “Jangan Lupa Berdoa”

27 Februari 2026 66 Views
IMG 20241110 WA0073
Nasional

Kolaborasi JAMPIDUM dan STIH Adhyaksa Adakan Seleksi Chainalysis Reactor untuk Jaksa di Indonesia

10 November 2024 196 Views
IMG 20250718 WA0094
Nasional

Didampingi LBH ADHYAKSA, Pasutri Desak RS Kariadi Bertanggung Jawab atas Kematian Anak

19 Juli 2025 151 Views
IMG 20240612 WA0027
Nasional

SENGKETA TANAH .Ahli waris KAIRIN BIN GALING dkk dengan PEMKOT TANGSEL DITOLAK MA..

12 Juni 2024 314 Views
Rasio News
  • rasionews25@gmail.com
  • 0813-2345-7193
  • 0817717715
  • Berita
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Edukasi
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Reading: Pucuk Rebung yang Menggenggam Cahaya”: Narasi Keadilan Gerakan Kesetaraan di Lembah Sunda
Share
Copyright © 2023 PT. Rafa Canasha Media
Selamat Datang di RasioNews.com!

Masuk ke Akun Anda