Masuk
Rasio NewsRasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Reading: Politik Kebangsaan Kristen: Belajar dari Sejarah, Menyalakan Harapan untuk Indonesia
Share
Rasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Yudikatif
  • TNI – Polri
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
Search
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Sudah punya akun? Masuk
Follow US
Rasio News > Berita > Nasional > Politik Kebangsaan Kristen: Belajar dari Sejarah, Menyalakan Harapan untuk Indonesia
Nasional

Politik Kebangsaan Kristen: Belajar dari Sejarah, Menyalakan Harapan untuk Indonesia

Terakhir diperbarui: 12 Juni 2026 19:41
Reporter Redaksi Diposting 12 Juni 2026 58 Views
Share
IMG 20260612 WA0050
SHARE

 

Oleh: Kefas Hervin Devananda

Jakarta ll rasionews.com ll “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa masa depan tidak pernah dibangun dengan melupakan masa lalu. Sejarah adalah guru yang paling jujur, sekaligus cermin untuk menilai apakah kita belajar dari kegagalan atau justru mengulanginya.

Dalam kehidupan politik Indonesia, umat Kristen pernah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa. Namun, di sisi lain, tidak sedikit orang Kristen yang hingga kini masih memandang politik sebagai dunia yang kotor, penuh intrik, dan sebaiknya dijauhi. Akibat cara pandang tersebut, banyak yang memilih menjadi penonton daripada pelaku sejarah. Padahal, ketika orang-orang yang memiliki integritas memilih menjauh dari politik, ruang itu akan diisi oleh mereka yang belum tentu memiliki keberpihakan kepada keadilan dan kepentingan rakyat.

Sejarah membuktikan bahwa politik tidak selalu identik dengan perebutan kekuasaan. Politik juga dapat menjadi jalan pengabdian. Salah satu contoh paling nyata adalah hadirnya Partai Kristen Indonesia (Parkindo) yang pada masanya bukan hanya menjadi wadah politik umat Kristen, tetapi menjadi bagian dari kekuatan nasional yang ikut menjaga persatuan, demokrasi, dan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Dari rahim Parkindo lahirlah tokoh-tokoh negarawan yang dikenang bukan karena kekayaannya, melainkan karena integritasnya. Johannes Leimena adalah salah satu contoh terbaik. Berkali-kali dipercaya menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia, ia tetap hidup sederhana dan tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk memperkaya diri atau keluarganya. Politik baginya adalah pelayanan, bukan privilese.

Namun sejarah berubah ketika kebijakan fusi partai pada era Orde Baru tahun 1973–1974 mengakhiri eksistensi Parkindo sebagai partai politik yang mandiri. Sejak saat itu, umat Kristen kehilangan salah satu kendaraan politik yang pernah menjadi simbol keterlibatan aktif dalam pembangunan bangsa.

Meski demikian, semangat tersebut tidak pernah benar-benar padam. Dalam era reformasi dan sesudahnya, berbagai upaya dilakukan untuk menghidupkan kembali partisipasi politik yang berakar pada nilai-nilai Kristiani. Hadir berbagai partai seperti Partai Kristen Nasional Indonesia (Krisna), Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB), Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Kristen Demokrat (PKD), serta Partai Katolik, yang masing-masing membawa harapan dan cita-cita untuk berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:  Merasa Dirugikan Video Viral, Warga Kauman Pekalongan Tempuh Jalur Hukum

Walaupun perjalanan mereka tidak selalu berhasil meraih kekuatan politik yang besar, kehadiran partai-partai tersebut menunjukkan bahwa semangat untuk berpartisipasi dalam demokrasi tidak pernah hilang. Mereka menjadi bagian dari mata rantai sejarah yang mengingatkan bahwa umat Kristen dan Katolik tidak pernah absen dalam upaya membangun Indonesia.

Sayangnya, tantangan terbesar justru sering kali datang dari dalam diri kita sendiri.

Saya sering merenung bahwa politik dan kekristenan ibarat minyak dan air. Keduanya dapat berada dalam satu wadah, tetapi sulit benar-benar menyatu apabila manusia gagal menjaga integritasnya. Politik sering kali menuntut kompromi, sementara iman menuntut kebenaran. Di titik itulah karakter menjadi penentu apakah kekuasaan akan menjadi alat pelayanan atau justru alat penindasan.

Ironisnya, sejarah gereja di Indonesia juga memperlihatkan bahwa perpecahan menjadi persoalan yang terus berulang. Ratusan sinode lahir dengan berbagai alasan, sementara semangat persatuan sering kali kalah oleh ego, kepentingan organisasi, dan perbedaan tafsir. Semua berbicara atas nama Tuhan, tetapi tidak semuanya mampu menghidupi nilai kasih, pengampunan, dan rekonsiliasi.

Jika di dalam gereja sendiri sulit membangun persatuan, bagaimana mungkin berharap lahir kekuatan politik yang mampu memperjuangkan kepentingan bersama?

Padahal, politik bukanlah sesuatu yang najis. Politik adalah instrumen. Nilainya ditentukan oleh siapa yang menggunakannya. Di tangan mereka yang tamak, politik berubah menjadi alat transaksi kekuasaan dan memperkaya diri. Namun di tangan mereka yang memiliki hati melayani, politik menjadi sarana menghadirkan keadilan sosial, melindungi kaum lemah, dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Karena itu, sudah saatnya umat Kristen berhenti memandang politik sebagai sesuatu yang harus dihindari. Menjadi “garam dan terang dunia” tidak hanya diwujudkan di dalam gereja, tetapi juga di ruang-ruang pengambilan keputusan. Parlemen, pemerintahan, lembaga peradilan, dunia pendidikan, media, hingga ruang-ruang kebijakan publik membutuhkan orang-orang yang membawa nilai kejujuran, integritas, dan keberanian moral.

Dalam konteks inilah, gagasan tentang kebangkitan politik Kristen menjadi sangat relevan. Namun kebangkitan itu tidak boleh dibangun di atas semangat politik identitas yang sempit ataupun keinginan untuk mengunggulkan satu kelompok. Politik yang berakar dari nilai-nilai Kristiani harus menjadi politik kebangsaan, yaitu politik yang mengabdi kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang agama, suku, ras, maupun latar belakang sosial.

Baca Juga:  Ciptakan Generasi Unggul, Faiz-Faelasufa Dikukuhkan Sebagai Ayah Bunda Genre

Pelajaran terbesar dari perjalanan Parkindo, Krisna, PDKB, PDS, PKD, Partai Katolik, maupun berbagai inisiatif politik lainnya adalah bahwa nama partai bukanlah tujuan akhir. Partai hanyalah kendaraan. Yang menentukan arah perjalanan adalah nilai, visi, dan orang-orang yang mengemudikannya.

Apabila suatu hari nanti lahir atau berkembang sebuah kekuatan politik yang berangkat dari nilai-nilai tersebut, maka ukuran keberhasilannya bukanlah seberapa besar simbol yang diusung atau seberapa banyak kursi yang dimiliki, melainkan seberapa besar keberaniannya memperjuangkan kesetaraan bagi seluruh warga negara dan membela kepentingan rakyat Indonesia.

Ia harus menjadi suara bagi petani yang kehilangan tanahnya, nelayan yang berjuang mempertahankan hidupnya, buruh yang menginginkan upah layak, guru honorer yang mengabdi tanpa kepastian, tenaga kesehatan di daerah terpencil, pelaku UMKM yang membutuhkan dukungan, masyarakat adat yang mempertahankan haknya, kaum difabel yang memperjuangkan akses yang setara, hingga masyarakat miskin yang masih kesulitan memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan yang layak.

Di sinilah esensi sesungguhnya dari politik yang berakar pada nilai-nilai Kristiani. Ketika Yesus mengajarkan untuk melayani yang paling kecil, membela yang tertindas, dan mengangkat martabat manusia, maka nilai-nilai itu seharusnya diterjemahkan ke dalam kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat kecil. Iman tidak boleh berhenti di mimbar, tetapi harus hadir dalam setiap keputusan yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Yang dibutuhkan Indonesia bukanlah politik yang membangun sekat-sekat identitas, melainkan politik yang membangun jembatan persaudaraan. Bukan politik yang hanya berbicara atas nama kelompok tertentu, tetapi politik yang mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh warga negara yang mendambakan keadilan, kejujuran, dan pemerintahan yang bersih.

Tentu jalan menuju ke sana tidak mudah. Regulasi kepartaian, ambang batas parlemen, kebutuhan organisasi yang luas, hingga tingginya biaya politik menjadi tantangan nyata. Namun sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari mereka yang memilih menyerah sebelum berjuang.

Baca Juga:  FK. Mantap Peringati Maulid Nabi SAW dan Milad ke-2: Perkuat Silaturahmi dan Semangat Kebersamaan

Kesalahan terbesar umat Kristen selama ini mungkin bukan karena kalah dalam kompetisi politik, melainkan karena terlalu lama membiarkan ruang politik diisi oleh orang lain sambil terus mengeluhkan hasilnya. Banyak yang aktif melayani di gereja, tetapi tidak peduli siapa yang membuat undang-undang. Banyak yang rajin beribadah, tetapi tidak tertarik mengawasi kebijakan publik yang memengaruhi kehidupan jutaan rakyat.

Padahal, perubahan hanya akan terjadi ketika orang-orang yang memiliki nilai dan integritas berani masuk ke dalam sistem untuk memperbaikinya dari dalam.

Belajar dari perjalanan seluruh partai politik Kristen dan Katolik yang pernah hadir di Indonesia, kita seharusnya memahami bahwa yang paling penting bukanlah mempertahankan sebuah nama, melainkan menjaga api perjuangan agar tidak pernah padam. Nama partai bisa berubah, organisasi bisa berganti, bahkan zaman akan terus bergerak. Tetapi cita-cita untuk menghadirkan politik yang bersih, berintegritas, dan berpihak kepada rakyat harus tetap hidup.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak negarawan yang bekerja dengan hati nurani, bukan sekadar politisi yang mengejar jabatan. Indonesia membutuhkan kekuatan politik yang berani memperjuangkan kesetaraan di hadapan hukum, melawan korupsi, menjaga kebebasan beragama, membela konstitusi, serta memastikan bahwa setiap kebijakan publik benar-benar berpihak kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan latar belakangnya.

Karena pada akhirnya, kebangkitan politik Kristen bukanlah tentang memenangkan satu agama atau satu golongan. Kebangkitan itu adalah tentang menghadirkan kembali semangat pengabdian yang pernah diteladankan para pendahulu: politik sebagai panggilan untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Sejarah tidak akan mengingat seberapa besar sebuah partai, tetapi akan mengingat seberapa besar pengaruhnya bagi kehidupan rakyat. Sejarah tidak akan bertanya apa nama kendaraan politik yang digunakan, tetapi akan mencatat apakah ia mampu memperjuangkan kesetaraan, menjaga persatuan, membela konstitusi, dan berdiri bersama rakyat kecil ketika mereka membutuhkan pembela. Itulah esensi politik kebangsaan yang sesungguhnya—politik yang lahir dari iman, dipimpin oleh integritas, dan diabdikan sepenuhnya untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Bagikan Berita Ini
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Apa Reaksi Anda?
Suka0
Galau0
Kocak0
Terkejut0
Emosi0
BERITA SEBELUMNYA IMG 20260612 WA0039 Nama Dicantumkan dalam Berkas, Empat Santri Tegaskan Tidak Pernah Menjadi Korban
BERITA BERIKUTNYA IMG 20260612 WA0055 Pembangunan Revitalisasi Satuan Pendidikan (SMP) 3 Tunjung Teja Bersumber APBN Seharusnya Swakelola, Diduga Oleh Pihak Ke Tiga Jelas Langgar Aturan
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan Pilih Rating!

- Advertisement -

Berita Populer

Screenshot 20260907 144350 1
Nasional
Di Wilayah  Keamanan Cisoka Masih ada Jalan Rusak Parah tak Kunjung diperbaiki, Kemana Saja Pejabat Pemerintah Kabupaten Tangerang
7 September 2026 23 Views
IMG 20260908 WA0071
Pemerintahan
Mendagri Minta Kepala Daerah di NTT Segera Gunakan Bantuan Presiden untuk Penanganan Pascagempa
8 September 2026 22 Views
IMG 20260908 WA0064
Nasional
Kumpulkan Jajaran IPPAT dan BPKAD Se-Yogyakarta, Menteri Nusron Sosialisasikan Transformasi Layanan Pertanahan dan Organisasi
8 September 2026 21 Views
IMG 20260906 WA0095
Hukum
TENTANG PENGANGKATAN PIMPINAN PERUSAHAAN PT INFO OMBB SIBER INDONESIA.
6 September 2026 21 Views
IMG 20260906 WA0134
TNI – Polri
Polda Banten Gagalkan Pengiriman 150 Ribu Benih Bening Lobster, Satu Truk Diamankan
6 September 2026 19 Views
IMG 20260909 112616
Nasional
Sebanyak 220 warga Kabupaten Tasikmalaya menerima bantuan becak listrik melalui program Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
9 September 2026 17 Views
Jasa Website & Artikel SEO
Jasa Website & Artikel SEO

Pendidikan

Di Hut RI Ke 81,Kadindibud Kota Cilegon ajak masyarakat berkarya dan memajukan pendidikan demi Indonesia yang lebih maju
17 Agustus 2026 44 Views
Mendekati HUT ke-81 Republik Indonesia, Kadisdik Kota Tangerang Ajak Masyarakat Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
1 Agustus 2026 46 Views
Saat Hujan Tergenang, Lapangan Upacara SD Negeri Ciruas 5 Dinilai Perlu Segera Direhabilitasi
28 Juli 2026 53 Views
500 Atlet Ramaikan Festival Renang Piala Disdikbud Tangsel 2026, Akuatik Banten Apresiasi Pembinaan Bibit Juara
26 Juli 2026 57 Views
Universitas Paramadina – INDEF: Ini PR Besar RI untuk Tembus Pasar Halal Global
24 Juli 2026 73 Views

Seputar Desa

IMG 20260807 WA0079
Jumat Berkah di Nerogtog: Lurah Santuni Anak Yatim dan Kaum Dhuafa
7 Agustus 2026 30 Views
IMG 20260724 WA0216
Pemerintah Desa Harapankarya Apresiasi Bantuan Rumah Layak Huni Rp25 Juta dari BAZNAS Provinsi Banten
24 Juli 2026 62 Views
Screenshot 20260707 150907
Pencapaian Desa Cawet Sukseskan PTSL 2026 dengan Antusias Pendaftar Warga Desa
7 Juli 2026 191 Views
IMG 20260622 WA0085
FRIC Soroti Sikap Kepala Desa Kaduagung yang Dinilai Sulit Dikonfirmasi, Komitmen Keterbukaan Informasi Dipertanyakan
22 Juni 2026 101 Views
IMG 20260519 WA0030
OPERASIONAL MOBIL SIAGA DESA PANIMBANG JAYA JADI PERDEBATAN
19 Mei 2026 148 Views

Artikel Terkait:

1
NasionalPemerintahan

Cuaca Mendung, Hilal di Kota Pekalongan Tidak Terlihat

10 April 2024 768 Views
Screenshot 20260112 164739
Nasional

19 Nasabah BMT Minna Lana Mediasi, Keluhkan Simpanan Tak Kunjung Cair

12 Januari 2026 89 Views
IMG 20240909 WA0033
Nasional

Polsek Pasar Kemis Berhasil Seorang Pria Pengedar Tramadol

9 September 2024 315 Views
Screenshot 20250902 134404
Nasional

POLISI AMANKAN 11 PELAKU DEMO ANARKIS DI PEMKOT PEKALONGAN

2 September 2025 113 Views
Rasio News
  • rasionews25@gmail.com
  • 0813-2345-7193
  • 0817717715
  • Berita
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Edukasi
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Reading: Politik Kebangsaan Kristen: Belajar dari Sejarah, Menyalakan Harapan untuk Indonesia
Share
Copyright © 2023 PT. Rafa Canasha Media
Selamat Datang di RasioNews.com!

Masuk ke Akun Anda