Masuk
Rasio NewsRasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Reading: KETIKA PANGGUNG TERLALU RAMAI, RAKYAT MERINDUKAN SEBUAH BERANDA
Share
Rasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Yudikatif
  • TNI – Polri
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
Search
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Sudah punya akun? Masuk
Follow US
Rasio News > Berita > Nasional > KETIKA PANGGUNG TERLALU RAMAI, RAKYAT MERINDUKAN SEBUAH BERANDA
NasionalPemerintahan

KETIKA PANGGUNG TERLALU RAMAI, RAKYAT MERINDUKAN SEBUAH BERANDA

Terakhir diperbarui: 31 Mei 2026 10:06
Reporter Redaksi Diposting 31 Mei 2026 113 Views
Share
IMG 20260531 WA0002
SHARE

 

Menjaga Silaturahmi Kebangsaan di Tengah Musim Perebutan Pengaruh

Oleh: Kefas Hervin Devananda
Jurnalis Pewarna Indonesia dan Penggiat Budaya

Indonesia hari ini ibarat sebuah rumah besar yang baru saja selesai menggelar hajatan panjang. Kursi-kursi pesta telah dirapikan, lampu-lampu perayaan mulai dipadamkan, dan para tamu satu per satu kembali ke rumah masing-masing. Namun di sudut-sudut rumah itu, masih terdengar suara-suara yang belum selesai. Ada yang masih menghitung kemenangan, ada yang masih meratapi kekalahan, dan ada pula yang sibuk mengukur luas pengaruh yang berhasil dibawa pulang.

Padahal, di luar pagar rumah besar bernama Indonesia itu, rakyat sedang menghadapi kenyataan yang jauh lebih nyata daripada sekadar perdebatan politik. Harga kebutuhan pokok masih menjadi beban, lapangan pekerjaan masih menjadi harapan, dan kesejahteraan tetap menjadi cita-cita yang diperjuangkan jutaan keluarga dari kota hingga pelosok desa.

Namun ironisnya, ketika rakyat sedang menatap sawah, pasar, laut, dan tempat kerja mereka, sebagian elite justru masih sibuk menatap peta kekuasaan.

Di negeri ini, politik sering kali menyerupai musim yang tak kunjung berganti. Bahkan setelah pesta demokrasi usai, gema kompetisi masih terdengar di mana-mana. Setiap peristiwa ditafsirkan sebagai manuver. Setiap pertemuan dibaca sebagai konsolidasi. Setiap langkah tokoh nasional dianggap sebagai sinyal politik yang harus dihitung untung-ruginya.

Seolah-olah bangsa ini telah kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu apa adanya.

Dalam suasana seperti itulah rencana Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, melakukan safari ke berbagai daerah menjadi perhatian publik.

Bagi rakyat biasa, kedatangan seorang mantan Presiden bukanlah peristiwa politik yang rumit. Ia lebih menyerupai kedatangan seorang tetua kampung yang ingin kembali melihat halaman rumah yang pernah ia rawat. Datang untuk menyapa. Datang untuk mendengar. Datang untuk memastikan bahwa benih-benih yang pernah ditanam masih tumbuh di tengah masyarakat.

Namun di negeri yang terlalu lama hidup dalam bayang-bayang kontestasi politik, bahkan langkah menuju rakyat pun sering dicurigai sebagai langkah menuju kekuasaan.

Belum perjalanan dimulai, sudah ada yang menghitung keuntungan politiknya.

Belum tangan berjabat, sudah ada yang menghitung elektabilitasnya.

Belum rakyat berkumpul, sudah ada yang sibuk menyiapkan panggung klaim dan kepemilikan.

Seolah-olah setiap senyum harus menghasilkan suara.

Seolah-olah setiap pelukan harus melahirkan dukungan.

Seolah-olah setiap silaturahmi harus berakhir pada deklarasi politik.

Padahal bangsa ini dibangun bukan hanya oleh pidato-pidato besar para pemimpinnya, tetapi juga oleh budaya silaturahmi yang diwariskan turun-temurun. Dari Aceh hingga Papua, dari Minangkabau hingga Tanah Jawa, leluhur Nusantara mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu harus dibangun di atas kepentingan.

Ada pertemuan yang terjadi karena persaudaraan.

Ada kunjungan yang dilakukan karena penghormatan.

Ada perjalanan yang ditempuh hanya untuk menjaga tali kemanusiaan.

Sayangnya, nilai-nilai itu perlahan mulai terkikis oleh pragmatisme politik. Segala sesuatu ingin dimiliki. Segala sesuatu ingin diklaim. Segala sesuatu ingin diberi warna dan atribut kelompok tertentu.

Bahkan seseorang yang dicintai rakyat pun dianggap harus menjadi milik satu golongan.

Padahal matahari tidak pernah memilih hanya menyinari satu rumah.

Hujan tidak pernah memilih hanya membasahi satu ladang.

Dan seorang pemimpin yang telah menjadi bagian dari sejarah bangsa semestinya tidak dipaksa menjadi milik satu kelompok politik.

Baca Juga:  LSM Bungoeng Lam Jaroe, Minta Dan Desak Bupati Dan BKPSDM Aceh Timur, Tidak Perpanjang Kontrak P3K "Dr. SM

Sebab ketika seorang tokoh dipersempit menjadi simbol satu golongan, saat itulah ia kehilangan sebagian kemampuannya untuk menjadi jembatan bagi golongan yang lain.

Indonesia saat ini sesungguhnya sedang membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok.

Kita terlalu lama membangun sekat.

Sekat pilihan politik.

Sekat kepentingan.

Sekat identitas.

Sekat prasangka.

Akibatnya, sesama anak bangsa sering kali berdiri berhadap-hadapan hanya karena berbeda warna bendera, padahal mereka tetap menghirup udara yang sama, meminum air yang sama, dan berpijak di tanah air yang sama.

Karena itu, safari seorang mantan Presiden hendaknya tidak dijadikan medan perebutan warisan politik.

Jangan jadikan rakyat sebagai penonton dalam pertunjukan klaim pengaruh.

Jangan jadikan silaturahmi sebagai panggung transaksi kekuasaan.

Dan jangan pula memaksa seorang tokoh bangsa untuk memilih sudut sempit ketika rakyat masih membutuhkan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan.

Pada akhirnya, rakyat tidak sedang menunggu Jokowi berdiri di atas panggung partai mana pun. Rakyat tidak sedang menunggu warna bendera apa yang akan dikibarkannya. Yang dirindukan rakyat adalah kehadiran seorang pemimpin yang tetap mampu mendengar denyut kehidupan mereka, merasakan kegelisahan mereka, dan memahami harapan-harapan yang masih tersimpan di hati masyarakat kecil.

Karena itu, banyak rakyat berharap agar Jokowi tetap menjaga independensinya sebagai seorang tokoh bangsa. Tidak terjebak dalam sekat-sekat kepentingan politik yang sempit. Tidak larut dalam tarik-menarik kepentingan kelompok. Tidak membiarkan dirinya menjadi milik satu partai atau satu golongan tertentu.

Biarlah Jokowi tetap berada pada posisi yang selama ini membuatnya dekat dengan rakyat, yaitu berdiri bersama rakyat. Sebab ketika seorang pemimpin memilih menjadi milik satu kelompok, ia mungkin mendapatkan dukungan politik. Tetapi ketika ia memilih tetap bersama rakyat, ia mendapatkan tempat dalam ingatan sejarah bangsa.

Kita tentu tidak dapat menentukan pilihan politik seseorang. Itu adalah hak pribadi yang dijamin demokrasi. Namun sebagai bagian dari rakyat Indonesia, kita berhak memiliki harapan.

Harapan agar Jokowi tetap menempatkan rakyat sebagai titik pijak pengabdiannya.

Harapan agar langkah-langkahnya setelah meninggalkan Istana tetap berada di garis rakyat.

Harapan agar safari yang dilakukannya menjadi ruang silaturahmi kebangsaan, bukan kendaraan politik yang mempersempit makna persatuan.

Dan harapan agar di tengah riuh rendah perebutan pengaruh yang masih mewarnai politik nasional, Jokowi memilih tetap berjalan di jalan yang selama ini membesarkan namanya: jalan rakyat.

Karena jabatan memiliki batas waktu.

Kekuasaan memiliki masa akhir.

Partai politik dapat berganti dan berubah.

Tetapi kedekatan dengan rakyat adalah warisan yang jauh lebih abadi daripada kemenangan politik sesaat.

Semoga saja, ketika panggung-panggung politik semakin ramai oleh suara klaim dan perebutan pengaruh, Jokowi tetap memilih duduk di beranda rakyat. Mendengar suara mereka, merasakan denyut kehidupan mereka, dan menjaga dirinya tetap menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling lama berkuasa. Sejarah lebih sering mengingat siapa yang tetap setia bersama rakyat ketika kekuasaan telah berlalu.

Menjaga Silaturahmi Kebangsaan di Tengah Musim Perebutan Pengaruh

Oleh: Kefas Hervin Devananda
Jurnalis Pewarna Indonesia dan Penggiat Budaya

Baca Juga:  Wawalkot Balgis Tekankan Pentingnya Perubahan Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Bogor – Indonesia hari ini ibarat sebuah rumah besar yang baru saja selesai menggelar hajatan panjang. Kursi-kursi pesta telah dirapikan, lampu-lampu perayaan mulai dipadamkan, dan para tamu satu per satu kembali ke rumah masing-masing. Namun di sudut-sudut rumah itu, masih terdengar suara-suara yang belum selesai. Ada yang masih menghitung kemenangan, ada yang masih meratapi kekalahan, dan ada pula yang sibuk mengukur luas pengaruh yang berhasil dibawa pulang.

Padahal, di luar pagar rumah besar bernama Indonesia itu, rakyat sedang menghadapi kenyataan yang jauh lebih nyata daripada sekadar perdebatan politik. Harga kebutuhan pokok masih menjadi beban, lapangan pekerjaan masih menjadi harapan, dan kesejahteraan tetap menjadi cita-cita yang diperjuangkan jutaan keluarga dari kota hingga pelosok desa.

Namun ironisnya, ketika rakyat sedang menatap sawah, pasar, laut, dan tempat kerja mereka, sebagian elite justru masih sibuk menatap peta kekuasaan.

Di negeri ini, politik sering kali menyerupai musim yang tak kunjung berganti. Bahkan setelah pesta demokrasi usai, gema kompetisi masih terdengar di mana-mana. Setiap peristiwa ditafsirkan sebagai manuver. Setiap pertemuan dibaca sebagai konsolidasi. Setiap langkah tokoh nasional dianggap sebagai sinyal politik yang harus dihitung untung-ruginya.

Seolah-olah bangsa ini telah kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu apa adanya.

Dalam suasana seperti itulah rencana Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, melakukan safari ke berbagai daerah menjadi perhatian publik.

Bagi rakyat biasa, kedatangan seorang mantan Presiden bukanlah peristiwa politik yang rumit. Ia lebih menyerupai kedatangan seorang tetua kampung yang ingin kembali melihat halaman rumah yang pernah ia rawat. Datang untuk menyapa. Datang untuk mendengar. Datang untuk memastikan bahwa benih-benih yang pernah ditanam masih tumbuh di tengah masyarakat.

Namun di negeri yang terlalu lama hidup dalam bayang-bayang kontestasi politik, bahkan langkah menuju rakyat pun sering dicurigai sebagai langkah menuju kekuasaan.

Belum perjalanan dimulai, sudah ada yang menghitung keuntungan politiknya.

Belum tangan berjabat, sudah ada yang menghitung elektabilitasnya.

Belum rakyat berkumpul, sudah ada yang sibuk menyiapkan panggung klaim dan kepemilikan.

Seolah-olah setiap senyum harus menghasilkan suara.

Seolah-olah setiap pelukan harus melahirkan dukungan.

Seolah-olah setiap silaturahmi harus berakhir pada deklarasi politik.

Padahal bangsa ini dibangun bukan hanya oleh pidato-pidato besar para pemimpinnya, tetapi juga oleh budaya silaturahmi yang diwariskan turun-temurun. Dari Aceh hingga Papua, dari Minangkabau hingga Tanah Jawa, leluhur Nusantara mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu harus dibangun di atas kepentingan.

Ada pertemuan yang terjadi karena persaudaraan.

Ada kunjungan yang dilakukan karena penghormatan.

Ada perjalanan yang ditempuh hanya untuk menjaga tali kemanusiaan.

Sayangnya, nilai-nilai itu perlahan mulai terkikis oleh pragmatisme politik. Segala sesuatu ingin dimiliki. Segala sesuatu ingin diklaim. Segala sesuatu ingin diberi warna dan atribut kelompok tertentu.

Bahkan seseorang yang dicintai rakyat pun dianggap harus menjadi milik satu golongan.

Padahal matahari tidak pernah memilih hanya menyinari satu rumah.

Hujan tidak pernah memilih hanya membasahi satu ladang.

Dan seorang pemimpin yang telah menjadi bagian dari sejarah bangsa semestinya tidak dipaksa menjadi milik satu kelompok politik.

Sebab ketika seorang tokoh dipersempit menjadi simbol satu golongan, saat itulah ia kehilangan sebagian kemampuannya untuk menjadi jembatan bagi golongan yang lain.

Baca Juga:  Kebut Penyelesaian Berkas Layanan Pertanahan Akhir Tahun, Menteri Nusron Instruksikan Jajaran Masuk di Akhir Pekan

Indonesia saat ini sesungguhnya sedang membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok.

Kita terlalu lama membangun sekat.

Sekat pilihan politik.

Sekat kepentingan.

Sekat identitas.

Sekat prasangka.

Akibatnya, sesama anak bangsa sering kali berdiri berhadap-hadapan hanya karena berbeda warna bendera, padahal mereka tetap menghirup udara yang sama, meminum air yang sama, dan berpijak di tanah air yang sama.

Karena itu, safari seorang mantan Presiden hendaknya tidak dijadikan medan perebutan warisan politik.

Jangan jadikan rakyat sebagai penonton dalam pertunjukan klaim pengaruh.

Jangan jadikan silaturahmi sebagai panggung transaksi kekuasaan.

Dan jangan pula memaksa seorang tokoh bangsa untuk memilih sudut sempit ketika rakyat masih membutuhkan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan.

Pada akhirnya, rakyat tidak sedang menunggu Jokowi berdiri di atas panggung partai mana pun. Rakyat tidak sedang menunggu warna bendera apa yang akan dikibarkannya. Yang dirindukan rakyat adalah kehadiran seorang pemimpin yang tetap mampu mendengar denyut kehidupan mereka, merasakan kegelisahan mereka, dan memahami harapan-harapan yang masih tersimpan di hati masyarakat kecil.

Karena itu, banyak rakyat berharap agar Jokowi tetap menjaga independensinya sebagai seorang tokoh bangsa. Tidak terjebak dalam sekat-sekat kepentingan politik yang sempit. Tidak larut dalam tarik-menarik kepentingan kelompok. Tidak membiarkan dirinya menjadi milik satu partai atau satu golongan tertentu.

Biarlah Jokowi tetap berada pada posisi yang selama ini membuatnya dekat dengan rakyat, yaitu berdiri bersama rakyat. Sebab ketika seorang pemimpin memilih menjadi milik satu kelompok, ia mungkin mendapatkan dukungan politik. Tetapi ketika ia memilih tetap bersama rakyat, ia mendapatkan tempat dalam ingatan sejarah bangsa.

Kita tentu tidak dapat menentukan pilihan politik seseorang. Itu adalah hak pribadi yang dijamin demokrasi. Namun sebagai bagian dari rakyat Indonesia, kita berhak memiliki harapan.

Harapan agar Jokowi tetap menempatkan rakyat sebagai titik pijak pengabdiannya.

Harapan agar langkah-langkahnya setelah meninggalkan Istana tetap berada di garis rakyat.

Harapan agar safari yang dilakukannya menjadi ruang silaturahmi kebangsaan, bukan kendaraan politik yang mempersempit makna persatuan.

Dan harapan agar di tengah riuh rendah perebutan pengaruh yang masih mewarnai politik nasional, Jokowi memilih tetap berjalan di jalan yang selama ini membesarkan namanya: jalan rakyat.

Karena jabatan memiliki batas waktu.

Kekuasaan memiliki masa akhir.

Partai politik dapat berganti dan berubah.

Tetapi kedekatan dengan rakyat adalah warisan yang jauh lebih abadi daripada kemenangan politik sesaat.

Semoga saja, ketika panggung-panggung politik semakin ramai oleh suara klaim dan perebutan pengaruh, Jokowi tetap memilih duduk di beranda rakyat. Mendengar suara mereka, merasakan denyut kehidupan mereka, dan menjaga dirinya tetap menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling lama berkuasa. Sejarah lebih sering mengingat siapa yang tetap setia bersama rakyat ketika kekuasaan telah berlalu.

“Pemimpin besar tidak diukur dari seberapa kuat ia berdiri di atas partai, melainkan seberapa lama ia tetap berdiri bersama rakyat.”

— Kefas Hervin Devananda
Jurnalis Pewarna Indonesia dan Penggiat Budaya

Bagikan Berita Ini
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Apa Reaksi Anda?
Suka0
Galau0
Kocak0
Terkejut0
Emosi0
BERITA SEBELUMNYA IMG 20260527 WA0456 PSMTI Prihatin Calon Paskibraka Nasional Asal Makasar “Cathlyn Yvaeni Lesmana Gagal Lolos
BERITA BERIKUTNYA IMG 20260529 WA0145 Polisi Turun ke Sawah Dampingi Petani Jagung di Probolinggo, Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan Pilih Rating!

- Advertisement -

Berita Populer

IMG 20260827 WA0066
TNI – Polri
Kapolda Banten Bersama Pemprov Banten Terima Aspirasi Aliansi BEM Banten Bersatu
27 Agustus 2026 26 Views
IMG 20260825 WA0191
TNI – Polri
Dandim 0623/Cilegon Ucapkan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Mari Kita Bersama Teladani Akhlak Rasulullah
25 Agustus 2026 25 Views
IMG 20260827 WA0129
Nasional
IGEX 2026 Yogyakarta: Dari Game Show Jakarta Menuju Gerakan Nasional Industri Game Indonesia
27 Agustus 2026 24 Views
IMG 20260826 WA0131
Olahraga
Didiskualifikasi Saat Unggul 5-1, GWI Kota Tangerang Protes Dugaan Diskriminasi di Ajang Fun Futsal Walikota Cup
26 Agustus 2026 24 Views
IMG 20260827 WA0097
TNI – Polri
Hendak Menyerahkan Penjual Obat Keras Terlarang Daftar G, Lima Wartawan Malah Ditetapkan Tersangka oleh Polsek Teluknaga
27 Agustus 2026 22 Views
IMG 20260827 WA0094
TNI – Polri
Dari Silaturahmi hingga Aksi Sosial, Polres Cilegon dan Driver Online Kompak Jaga Kamtibmas
27 Agustus 2026 21 Views
Jasa Website & Artikel SEO
Jasa Website & Artikel SEO

Pendidikan

Di Hut RI Ke 81,Kadindibud Kota Cilegon ajak masyarakat berkarya dan memajukan pendidikan demi Indonesia yang lebih maju
17 Agustus 2026 36 Views
Mendekati HUT ke-81 Republik Indonesia, Kadisdik Kota Tangerang Ajak Masyarakat Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
1 Agustus 2026 41 Views
Saat Hujan Tergenang, Lapangan Upacara SD Negeri Ciruas 5 Dinilai Perlu Segera Direhabilitasi
28 Juli 2026 46 Views
500 Atlet Ramaikan Festival Renang Piala Disdikbud Tangsel 2026, Akuatik Banten Apresiasi Pembinaan Bibit Juara
26 Juli 2026 47 Views
Universitas Paramadina – INDEF: Ini PR Besar RI untuk Tembus Pasar Halal Global
24 Juli 2026 65 Views

Seputar Desa

IMG 20260807 WA0079
Jumat Berkah di Nerogtog: Lurah Santuni Anak Yatim dan Kaum Dhuafa
7 Agustus 2026 27 Views
IMG 20260724 WA0216
Pemerintah Desa Harapankarya Apresiasi Bantuan Rumah Layak Huni Rp25 Juta dari BAZNAS Provinsi Banten
24 Juli 2026 53 Views
Screenshot 20260707 150907
Pencapaian Desa Cawet Sukseskan PTSL 2026 dengan Antusias Pendaftar Warga Desa
7 Juli 2026 177 Views
IMG 20260622 WA0085
FRIC Soroti Sikap Kepala Desa Kaduagung yang Dinilai Sulit Dikonfirmasi, Komitmen Keterbukaan Informasi Dipertanyakan
22 Juni 2026 77 Views
IMG 20260519 WA0030
OPERASIONAL MOBIL SIAGA DESA PANIMBANG JAYA JADI PERDEBATAN
19 Mei 2026 140 Views

Artikel Terkait:

6836bb2441353 aksi di kantor cabang bri batang jogja
Nasional

Kredit Ganda dan Lelang Dipersoalkan, BRI Batang Tegaskan Komitmen Perbaikan Layanan

28 Mei 2025 628 Views
IMG 20251223 WA0107
Nasional

PERBER RUMAH IBADAH: JENDELA KETIDAKADILAN YANG DIPAKAI SEBAGAI PATOKAN ‘KERUKUNAN

23 Desember 2025 99 Views
IMG 20240909 WA0033
Nasional

Polsek Pasar Kemis Berhasil Seorang Pria Pengedar Tramadol

9 September 2024 313 Views
IMG 20240614 WA0164
Nasional

Pasangan Kreator Tiktok Ibu & Anak Asal Banten Impikan Ingin Bertemu Deddy Corbuzier

14 Juni 2024 285 Views
Rasio News
  • rasionews25@gmail.com
  • 0813-2345-7193
  • 0817717715
  • Berita
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Edukasi
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Reading: KETIKA PANGGUNG TERLALU RAMAI, RAKYAT MERINDUKAN SEBUAH BERANDA
Share
Copyright © 2023 PT. Rafa Canasha Media
Selamat Datang di RasioNews.com!

Masuk ke Akun Anda