Kota Pekalongan -Rasionews, Umat Tri Dharma menggelar Kirab Ritual dan Budaya Imlek 2026 di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Po An Thian, Kota Pekalongan, Senin (2/3/2026). Kirab ini menegaskan semangat harmoni dan toleransi antarumat beragama yang hidup berdampingan di Kota Batik, meski berlangsung di tengah bulan suci Ramadhan.
Panitia memulai rangkaian acara dengan doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon kelancaran, keamanan, dan keselamatan hingga seluruh kegiatan selesai pada sore hari. Dalam doa pembuka, umat Klenteng Po An Thian secara khusus mendoakan umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa agar mendapat kelancaran dan keberkahan.
Panitia mengarak 11 tandu (joli) dalam kirab tahun ini, yang terdiri atas 10 tandu Dewa-Dewi dan satu tandu pendupaan. Sepuluh sosok suci yang diarak meliputi Y.M. Sin Long Tay Tee (Dewa Pengobatan dan Pertanian), Y.M. Tek Hay Cin Jin (Dewa Perdagangan), Y.M. Kwan Seng Tee Koen (Dewa Kejujuran dan Kesetiaan), Y.M. Lie Lo Cia (Dewa Pelindung Anak-Anak), Y.M. Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), Y.M. Hauw Ciang Kun (Panglima Macan), Y.M. Hian Thian Siang Tee (Pembasmi Ilmu Hitam), Y.M. Thian Siang Seng Boo (Pelindung Nelayan), Y.M. Kwan Se Im Po Sat (Dewi Welas Asih), serta Y.M. Kongco Han Tan Kong (Dewa Kekayaan). Umat memanjatkan doa melalui perantara para Dewa-Dewi tersebut agar tahun baru membawa kemakmuran dan menjauhkan Kota Pekalongan dari marabahaya.
Kirab semakin semarak dengan penampilan enam barongsai dan satu naga dari Perkumpulan Liong Samsie Dharma Asih Semarang. Sanggar Seni Tridharma Mekar Teratai menampilkan cosplay tokoh legendaris Tionghoa, sementara Marching Band Gita Wiradesa dan grup musik bambu Dara D’Calung turut menghibur masyarakat di sepanjang rute kirab.
Semangat akulturasi budaya terlihat dalam penampilan Sanggar Kudo Bekso Utomo 1970 yang membawakan kesenian lokal seperti sintren, jaranan, jamang, dan bantengan. Berbagai unsur budaya Tionghoa dan Jawa berpadu dalam satu rangkaian pawai yang menyedot perhatian warga.
Ketua Yayasan Tridharma Po An Thian Pekalongan, Heru Wibawanto Nugroho, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tetap tinggi meski kegiatan berlangsung saat Ramadhan. Ia menilai solidaritas dan tenggang rasa yang terjaga di Pekalongan menjadi modal utama terciptanya kehidupan yang aman di tengah keberagaman suku, agama, dan ras.
Menurut Heru, kirab tidak hanya berfungsi sebagai ritual untuk menetralisir energi negatif, tetapi juga menjadi agenda budaya yang berpotensi meningkatkan sektor pariwisata daerah. “Kami ingin kirab ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus daya tarik budaya Kota Pekalongan,” ujarnya.
Tradisi yang rutin digelar setiap hari ke-14 bulan pertama penanggalan Imlek ini juga membawa pesan kebangsaan. Panitia dan umat menyelipkan doa agar Indonesia senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan serta para pemimpin bangsa mendapat bimbingan untuk bersikap adil, amanah, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
TITD Klenteng Po An Thian Pekalongan sendiri berdiri sejak sekitar tahun 1760-an dan menjalani renovasi pertama pada 1882. Hingga kini, bangunan bersejarah tersebut menjadi pusat ibadah dan kebudayaan umat Tridharma—Buddha, Khonghucu, dan Tao—di Pekalongan. Klenteng ini memiliki 14 altar persembahyangan, termasuk satu altar khusus untuk Thian, Tuhan Yang Maha Esa, serta menempatkan Y.M. Tek Hay Cin Jin dan Y.M. Sin Long Tay Tee sebagai dewa utama.
Melalui Kirab Imlek 2026, masyarakat Pekalongan kembali menegaskan komitmen untuk merawat persatuan dalam keberagaman serta menjaga warisan budaya yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad,”pungkasnya. (Tri)
Kirab Imlek 2026 Pekalongan Teguhkan Harmoni dan Toleransi di Bulan Ramadhan
Tinggalkan Ulasan




