Masuk
Rasio NewsRasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Reading: Antara Kritik dan Legitimasi: Menguji Kedewasaan Demokrasi dalam Polemik Pernyataan Saiful Mujani
Share
Rasio NewsRasio News
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • Yudikatif
  • TNI – Polri
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
Search
  • Home
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Lebih
    • Bisnis
    • Teknologi
    • Hukum
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Edukasi
    • Seputar Desa
    • Advertorial
    • E-Paper
Sudah punya akun? Masuk
Follow US
Rasio News > Berita > Nasional > Antara Kritik dan Legitimasi: Menguji Kedewasaan Demokrasi dalam Polemik Pernyataan Saiful Mujani
Nasional

Antara Kritik dan Legitimasi: Menguji Kedewasaan Demokrasi dalam Polemik Pernyataan Saiful Mujani

Terakhir diperbarui: 7 April 2026 23:16
Reporter Redaksi Diposting 7 April 2026 60 Views
Share
IMG 20260407 WA0200
SHARE

 

 

Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Jakarta ll rasionews.com ll  Pernyataan Saiful Mujani yang menyerukan “menjatuhkan Presiden Prabowo”, yang disampaikan dalam forum diskusi di Jakarta pada awal April 2026 dan kemudian meluas di ruang digital, telah memantik perdebatan luas. Sebagian menilainya sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dalam demokrasi. Sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk delegitimasi terhadap kekuasaan yang sah.

Namun jika kita berhenti hanya pada dikotomi tersebut, kita justru kehilangan kesempatan untuk membaca persoalan ini secara lebih mendalam. Polemik ini bukan sekadar soal satu pernyataan, melainkan ujian terhadap kedewasaan demokrasi Indonesia dalam mengelola kritik, legitimasi, dan konstitusi secara bersamaan.

1. Demokrasi dan Hak untuk Mengkritik Kekuasaan

Secara prinsip, demokrasi tidak mungkin hidup tanpa kritik. Kebebasan berpendapat dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bagian dari hak asasi warga negara. Dalam kerangka ini, kritik terhadap presiden—siapa pun orangnya—bukanlah sesuatu yang terlarang.

Bahkan, dalam tradisi demokrasi modern, kritik yang tajam sering kali menjadi indikator bahwa ruang kebebasan masih terjaga.

Namun di sinilah pentingnya pembedaan:
demokrasi bukan hanya menjamin hak untuk berbicara, tetapi juga mengatur bagaimana kekuasaan dijalankan dan diubah.

Dengan kata lain, demokrasi memiliki dua pilar yang harus berjalan seimbang:

Kebebasan (liberty)
Keteraturan hukum (rule of law)

Ketika salah satu terlalu dominan, demokrasi bisa kehilangan arah.

2. Konstitusi sebagai Batas dan Penjaga

Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, konstitusi bukan sekadar dokumen hukum, tetapi kerangka utama yang mengatur legitimasi kekuasaan.

Presiden dipilih melalui pemilihan umum yang sah. Oleh karena itu, legitimasi presiden bersumber dari:

Kedaulatan rakyat
Proses konstitusional
Pengakuan institusional

Konstitusi juga mengatur secara jelas bahwa pemberhentian presiden hanya dapat dilakukan melalui mekanisme tertentu, yakni proses pemakzulan yang melibatkan DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR.

Baca Juga:  Sinergitas Pramarin dan Kemenhubla Membangun Budaya Keselamatan (safety cultur) dalam menurunkan Tingkat kecelakaan Kapal (Zero Accident)

Dengan demikian, setiap narasi “menjatuhkan presiden” di luar mekanisme tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Bukan semata-mata karena kritik dilarang, tetapi karena konstitusi tidak menyediakan jalur perubahan kekuasaan melalui tekanan politik atau mobilisasi opini semata.

3. Tafsir Publik dan Risiko Delegitimasi

Dalam praktik politik, makna sebuah pernyataan tidak ditentukan hanya oleh maksud pembicara, tetapi juga oleh bagaimana publik menafsirkannya.

Di sinilah persoalan menjadi kompleks.

Istilah seperti “menjatuhkan presiden” dapat ditafsirkan secara beragam:

Sebagai metafora politik
Sebagai kritik keras
Atau sebagai seruan delegitimasi

Dalam masyarakat yang tingkat literasi politiknya beragam, tafsir yang berkembang tidak selalu rasional atau kontekstual. Narasi yang ambigu berpotensi:

Memicu kesalahpahaman
Menguatkan polarisasi
Mengganggu kepercayaan terhadap institusi

Karena itu, dalam demokrasi yang sehat, bahasa politik seharusnya memperjelas, bukan memperkeruh.

4. Otokritik: Demokrasi Kita Masih dalam Tahap Konsolidasi

Polemik ini juga membuka ruang otokritik yang penting.

Indonesia memang telah menjalankan demokrasi selama lebih dari dua dekade, tetapi dalam banyak aspek, demokrasi kita masih dalam tahap konsolidasi. Beberapa tantangan yang masih terlihat antara lain:

Budaya politik yang masih emosional
Ketergantungan pada figur, bukan pada sistem
Rendahnya disiplin dalam membedakan kritik dan delegitimasi

Di sisi lain, media dan ruang digital mempercepat penyebaran narasi tanpa selalu diiringi dengan kedalaman analisis.

Akibatnya, ruang publik sering kali berubah menjadi arena reaksi cepat, bukan refleksi mendalam.

5. Peran Intelektual dan Tanggung Jawab Moral

Dalam konteks ini, peran intelektual menjadi sangat penting.

Seorang pengamat politik bukan sekadar penyampai opini, tetapi juga penjaga kualitas diskursus publik. Oleh karena itu, setiap pernyataan yang disampaikan harus mempertimbangkan:

Dampak sosial
Potensi tafsir
Konsekuensi politik

Baca Juga:  Lima Ketua MRP Bersatu: Suara Papua untuk Frans Pigome di Freeport

Kritik yang kuat seharusnya:

Menyajikan argumen berbasis data
Mengarahkan pada solusi
Menjaga stabilitas sistem

Jika tidak, maka kritik berisiko berubah menjadi produksi ketidakpercayaan.

6. Stabilitas sebagai Kepentingan Demokrasi

Sering kali stabilitas dianggap sebagai lawan dari demokrasi. Padahal dalam konteks negara berkembang, stabilitas justru merupakan prasyarat bagi demokrasi untuk bertahan.

Indonesia hari ini memiliki peran strategis, baik di kawasan maupun global. Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, stabilitas politik menjadi faktor penting dalam:

Menjaga kepercayaan ekonomi
Memperkuat posisi diplomasi
Melindungi kepentingan nasional

Karena itu, setiap narasi yang berpotensi melemahkan legitimasi pemerintah perlu dipertimbangkan tidak hanya dari sudut kebebasan berpendapat, tetapi juga dari sudut kepentingan negara secara keseluruhan.

7. Menjaga Keseimbangan: Kritik yang Konstitusional

Pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi tanpa konflik, tetapi demokrasi yang mampu mengelola konflik dalam koridor konstitusi.

Kritik tetap diperlukan, bahkan harus dilindungi. Namun kritik perlu memenuhi prinsip:

Tidak melampaui kerangka hukum
Tidak merusak legitimasi sistem
Tidak memicu instabilitas tanpa arah

Dengan demikian, kritik menjadi alat koreksi, bukan alat destruksi.

Ujian Kedewasaan Demokrasi

Pernyataan Saiful Mujani dan reaksi yang mengikutinya adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia masih berada dalam proses belajar—belajar membedakan antara kebebasan dan tanggung jawab, antara kritik dan delegitimasi.

Pertanyaan yang lebih penting bukan apakah pernyataan itu benar atau salah, tetapi:

apakah cara kita meresponsnya menunjukkan kedewasaan demokrasi, atau justru sebaliknya?

Demokrasi tidak hanya diuji saat pemilu.
Demokrasi diuji setiap hari—dalam kata-kata, dalam sikap, dan dalam cara kita memperlakukan perbedaan.

Dan dalam ujian itu, satu hal harus tetap dijaga:
konstitusi sebagai batas, sekaligus penuntun arah kehidupan berbangsa.

Baca Juga:  DPC Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN) Adakan Giat Acara Tali silaturahmi dengan para PAC

Red

Bagikan Berita Ini
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Apa Reaksi Anda?
Suka0
Galau0
Kocak0
Terkejut0
Emosi0
BERITA SEBELUMNYA IMG 20260407 WA0222 400x225 1 Divhumas Polri Gelar Dialog Publik Bahas Tantangan Hukum di Era Artificial Intelligence
BERITA BERIKUTNYA IMG 20260402 WA0002 Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.Ap. secara resmi membuka kegiatan Manasik Haji Terintegrasi Tingkat Kabupaten Tasikmalaya Tahun 1447 H / 2026 M
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan Pilih Rating!

- Advertisement -

Berita Populer

Screenshot 20260707 150907
AdvertorialNasionalSeputar Desa
Pencapaian Desa Cawet Sukseskan PTSL 2026 dengan Antusias Pendaftar Warga Desa
7 Juli 2026 124 Views
IMG 20260707 104312
Nasional
Binwil Tingkat Kabupaten Tasikmalaya Diadakan Di TP. PKK Kecamatan Salawu
7 Juli 2026 33 Views
IMG 20260706 WA0005
Nasional
Pembiaran Atau Dibiarkan?, Peredaran Obat Keras Terlarang Daftar G Dipertanyakan, Tim Media Temukan Dua Kios Beroperasi di Wilayah Hukum Polsek Serpong
6 Juli 2026 23 Views
IMG 20260706 WA0086
Nasional
Anak Perempuan 11 Tahun Dilaporkan Hilang, Keluarga Mohon Bantuan Masyarakat
6 Juli 2026 22 Views
IMG 20260706 WA0079 1
Hukum
Peredaran Obat Keras Daftar G Di Wilayah Hukum Polres Tangerang Selatan Masih Marak Dan Bebas
6 Juli 2026 20 Views
IMG 20260708 WA0012
Hukum
GWI Geram! Kecam Arogansi Pemdes Sumber Sari Kampar yang Abai Lambang Negara dan Alergi Kritik Jurnalis
8 Juli 2026 18 Views
Jasa Pembuatan Website Berita
Jasa Website Jogja
Jasa Backdrop Event Jogja
Jasa Backdrop Jogja

Pendidikan

Sekolah Bantah Potong Dana PIP, Dinas Pendidikan Dampingi Pencairan di BRI, Advokat Soroti Keterlambatan
29 Juni 2026 35 Views
Pembangunan Revitalisasi Satuan Pendidikan (SMP) 3 Tunjung Teja Bersumber APBN Seharusnya Swakelola, Diduga Oleh Pihak Ke Tiga Jelas Langgar Aturan
12 Juni 2026 49 Views
DARI KETUKAN MENJADI KEBANGGAAN! SEMANGAT DRUMBAND SMP NEGERI 7 WAKRE TERUS DITEMPA
4 Juni 2026 63 Views
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang beserta Staf Mengucapkan , Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah / 2026 M
1 Juni 2026 60 Views
PSMTI Prihatin Calon Paskibraka Nasional Asal Makasar “Cathlyn Yvaeni Lesmana Gagal Lolos
28 Mei 2026 65 Views

Seputar Desa

Screenshot 20260707 150907
Pencapaian Desa Cawet Sukseskan PTSL 2026 dengan Antusias Pendaftar Warga Desa
7 Juli 2026 124 Views
IMG 20260622 WA0085
FRIC Soroti Sikap Kepala Desa Kaduagung yang Dinilai Sulit Dikonfirmasi, Komitmen Keterbukaan Informasi Dipertanyakan
22 Juni 2026 34 Views
IMG 20260519 WA0030
OPERASIONAL MOBIL SIAGA DESA PANIMBANG JAYA JADI PERDEBATAN
19 Mei 2026 86 Views
IMG 20260219 WA0190
Puluhan Juta per Desa, Mesin Mati Total: Ada Apa dengan Dana Desa 2021?
19 Februari 2026 277 Views
IMG 20260218 WA0209
Ketua BPD Waringin kurung”inisial”S N ) Diduga Rangkap Jabatan PNS, Publik Desak Penegakan Aturan
18 Februari 2026 279 Views

Artikel Terkait:

IMG 20251016 WA0018
Nasional

MBG: Misi Mulia atau Ladang Korupsi? Romo Kefas Desak Pengawasan Super Ketat!

16 Oktober 2025 74 Views
IMG 20251025 WA0075
Nasional

Gabungnya Wartawan Indonesia DPD Banten Terima Pengakuan Resmi dari Kesbangpol

25 Oktober 2025 97 Views
IMG 20251116 WA0020
Nasional

Alah Mak, Cukup Gawat, Dugaan Permainan Sulap Pihak Kejari Aceh Timur, Atas Terpidananya “Dr Suci Maghfirah” Kasus Pelaku Tabrakan Beruntun

16 November 2025 61 Views
IMG 20250806 WA0237
Nasional

Dugaan Di Kabarkan, Pj Geuchik Desa Gampong Baro, Isu-Isu Segelintiran Yang Beredar Di Kota Langsa

6 Agustus 2025 186 Views
Rasio News
  • rasionews25@gmail.com
  • 0813-2345-7193
  • 0817717715
  • Berita
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Politik
  • TNI – Polri
  • Yudikatif
  • Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Edukasi
  • Seputar Desa
  • Advertorial
  • E-Paper
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Reading: Antara Kritik dan Legitimasi: Menguji Kedewasaan Demokrasi dalam Polemik Pernyataan Saiful Mujani
Share
Copyright © 2023 PT. Rafa Canasha Media
Selamat Datang di RasioNews.com!

Masuk ke Akun Anda